Dulu, standarku buat kuliah itu tinggi, nilai harus selalu bagus, terkenal di kalangan dosen sebagai anak yang baik dan cemerlang, punya network banyak, masuk klub/himpunan/apayalupaistilahnya dan jadi salah satu anggota organisasi kemahasiswaannya, pokoknya banyak deh. Karena berdasarkan ceramah dari salah seorang wakil rektor tentang keberhasilan salah satu mahasiswanya yang udah lulus langsung hidup bahagia di Amerika, kupikir semua itu bisa didapat dengan mudah.
Dan ternyata―pfft, boro-boro.
Sejak General Orientation kampus berakhir, kupikir aku bakal masuk ke dalam lingkungan orang-orang elit yang sering diceritain senior. Jadi intinya, ada satu kelas yang isinya anak-anak pinter, sebutannya kelas Digimon, karena anggapannya kelas tersebut adalah kelas "anak-anak terpilih". Dan standarku yang waktu itu kasih tinggi kepengen masuk kelas itu, karena berarti kita diakui "pintar" sama orang dalam dong?
Tapi ya ternyata enggak, aku masuk ke kelas yang biasa aja. Dalem hati kecewa juga.
Tapi kecewanya diganti sama temen-temen yang asik―yea, W, C, F, H, M, V, N, yang membuat hari-hari kuliah jadi lebih berwarna ngejreng, dan di kelas yang biasa-biasa itu juga, aku memutuskan untuk menjatuhkan hati kepada si Paus Biru. Tapi aku lebih deket sama W dan C, yang notabene gambarnya bagus luar binasa dan juga asik buat diajak ngobrol. Dari asik diajak ngobrol, kita jadi deket, dan selalu sekelompok (lupakan Paus Biru, dia grupnya laen ehehe). Seketika itu aku merasa nyaman, betah, pokoknya seratus delapan puluh derajat dari kehidupan SMA yang―ah sudahlah ga usah dibahas.
Nah, karena tiga semester di dalam lingkup yang sama―biarpun semester kedua tiba-tiba ada perubahan isi kelas dan F kepisah dari kelompok kita dan diganti dengan orang baru yang juga cukup seru―aku selalu punya satu permintaan: gue pengen selamanya satu lingkup kayak gini sampe lulus.
Tapi, ternyata takdir kampret juga.
Semester keempat, aku sama N masuk kelas Digimon, W sama C sama H masuk kelas yang sama, M sama F kelasnya sama, V sendirian di kelas laen. Aku kaget nyesek sampe-sampe pas sempet chat sama W aku bilang: "Ya Allah gue nggak mau masuk kelas Digimon..." sementara W ciye-ciyein gue.
Sederhana, semata-mata karena aku nggak mau keluar dari comfort zone saking cinta matinya sama sahabat-sahabat gue yang gendeng ini. Tapi di satu sisi: ambisi dari dalam diri ini muncul lagi, rasa bangga karena "diakui" itu tumbuh sedikit karena masuk di kelas yang isinya orang pintar.
Tapi benarkah mereka pintar dan terpilih?
.
.
.
((ketawa pelan))
Iya, ketawa, karena ekspetasiku 50:50. Bener sih ada yang pinternya diakui setara dewa, ada yang suka ngaku-ngaku desain tugasnya jelek tapi nilainya di atas 90 terus, ada yang ambisiusnya bener-bener sampe kalo mikirin ide musti yang cetar (tapi karena hasilnya bagus ya worth it sih), ada yang juara menggambar komik yang public speaking bahasa Inggrisnya kenceng banget sampe jadi perwakilan lomba debat bahasa Inggris di Bali, TERUS ADA YANG PERNAH JUARA DESAIN TINGKAT DUNIA YA HAHAHAHA, seorang teman lama yang nggak disukai W, dan yang bikin kaget, si Paus Biru juga masuk kelas Digimon (PLIS, KU MAU MOVE ON, KENAPAAAAHHHH?????)
Terus, sisanya gimana?
Hmm, ini nggak semua, dan aku nggak mau suudzon dan bikin satu orang kelas Digimon yang random ngestalk saya dan menemukan curhatan kontroversial ini. Mereka masuk kelas Digimon karena curang.
Ada desas-desus dari C, seorang oknum yang berteman dengan si Paus Biru mendapatkan nilai bagus karena menyontek 10% karya orang dan disusun sedemikian rupa sehingga jadi bagus, dan aku bisa yakin 100% C bener, kenapa? Karena oknum itu bilang sendiri kalo tugas UTSnya waktu itu nyontek dari si Paus Biru. Kemudian, salah satu teman wanita si oknum ini (bukan pacar, but they look good together―as thieves, pfft) punya kebiasaan minta hasil asistensi orang lain yang ditolak terus dijadikan asistensinya sendiri, pfft, ga bisa mikir lagi, little dame? Ada yang nggak bisa memperlakukan sahabatnya dengan baik, ada yang sombong dengan bilang nilai 85 itu rendah, ada yang selalu sikut-sikutan, dan yang lebih tidak bisa dimaafkan, ada yang plagiat nyaris 100% karya orang.
Setelah itu, aku menjadi ambil sikap sinis kepada kelas ini sebagai bentuk kekecewaan karena ekspetasiku hancur lebur. Demi nilai, mereka menghalalkan segala cara, asal nilai bagus dan dipuji dosen, semua akan baik-baik saja.
Dan karena itu pula, aku menganggap diriku sebagai anak biasa yang terperangkap dalam lingkaran setan bernama kelas Digimon ini.
Iya, mendingan kelas yang biasa-biasa aja tapi kamu bahagia, daripada kamu di kalangan elit tapi kamu garing sendiri karena nggak ada yang ngerti selera humor kamu. Serta nggak jarang aku kangen masa-masa orientasi karena masa itu paling asik di samping bangun pagi harus hapalin yel-yel. Dan kalo aku nggak naksir sama Paus Biru, aku...
(Ehm, katanya mau move on dari Paus Biru, Sher, dibahas wae.)
Eh tapi nggak berarti aku jadi ana terpojok di kelas Digimon sih. Aku punya temen yang asik―si dewa yang suka ngomong karyanya jelek tapi langganan nilai 90 ke atas aja bilang ke C kalo dia cukup nyaman temenan sama aku (oh darling I'm so honored, Q *sosot ingus*), yang lucu pun ada, dan si ambisius pun secara nggak langsung masuk ke dalam lingkarku, mungkin karena kita sama-sama satu kelas di semester lalu? Entahlah, tapi seenggaknya, hidupku di kelas Digimon gak sedih-sedih amat, kalo dapet tugas kelompok nggak perlu keliling minta tolong dimasukin.
Terus hikmah ceritanya?
Jangan kemakan marketing kampus. Udah gitu aja.
#DIJITAK
Nggak deng.
Ngutip quote dari Ajahn Brahm aja.
"... It's okay to make a mistake. It's alright not to be perfect, and that was such a great relief I didn't have to struggle so hard to be the perfect man or a perfect monk."
―REN
No comments:
Post a Comment