Friday, November 14, 2014

Redup

Pertama kali ada,
Aku merasa beda
Seperti ingin kau tetap hidup
Seperti ingin udara lega terhirup

Sekarang, kenapa kau redup?

Saturday, October 25, 2014

Lebih dari Cukup

Kadang ia bosan memperhatikannya sebagai orang asing.

Ia bosan melihat bagaimana pujaan hatinya itu tertawa bersama teman-temannya sementara ia berkawan dengan buku-buku yang selalu dibawanya ke manapun ia pergi. Ia bosan melihat bagaimana sang pujaan menjadi kebanggaan semua orang, sementara dirinya hanyalah anak perempuan yang biasa-biasa saja. Ia juga bosan mendengar berbagai rumor dan berita terbaru tentang orang itu—betapa populernya dia, betapa menyenangkan berteman dengannya, ditambah sederet prestasi dan pujian yang selalu terselip.

Apakah ia cemburu? Tidak, ia tidak cemburu. Justru ia patah.

Jika saja sore itu ia tidak bertemu dengan laki-laki itu di depan gerbang sekolah dengan cahaya jingga menembus tubuhnya hingga ke dalam denyut nadinya, mungkin ia tidak akan mengutarakan perasaannya kepadanya secara tiba-tiba. Jika saja ia tidak mengatakannya terlalu terburu-buru, bahwa ia menyukainya tanpa alasan, mungkin anak laki-laki itu tidak akan mengerutkan dahinya dan meninggalkannya dengan jawaban yang membuatnya patah hati berkepanjangan.

Kabar terbaru dari orang yang disukainya itu—dari teman-teman yang hobi bergosip, anak laki-laki itu sudah punya pacar yang sama pintar dan populer.

Ia mencoba untuk tersenyum ketika melihat punggung anak laki-laki itu, dengan seseorang yang bukan dirinya di samping sang pujaan hati, setiap harinya.

Ia tak mungkin menjadi populer atau pintar, karena ia sudah terlanjur nyaman menjadi dirinya sendiri. Dan jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin sekali menjadi dirinya sendiri di hadapan anak laki-laki itu.

Kenapa?

Karena yang diingat dari kejadian sore itu, dia hanya meminta untuk menjadi dirinya sendiri.


Dan menurutnya, itu sudah lebih dari cukup.

Ada Banyak Nama Untukmu

—tapi rasanya kau tak perlu tahu.

Karena nyaris setahun selalu berada di ruang yang sama, aku tak pernah benar-benar mengenalmu. Tiga semester berada di kelas yang sama, yang kulakukan hanyalah mencuri pandang kepadamu tak peduli bising macam apa lagi yang mengganggu.

Tiga semester, satu tahun—eh, belum?

Menurutku terlalu cepat, padahal sebelum ini aku merasa waktu baik-baik saja dan kerap memberitahuku berapa detik lagi tersisa untuk mengerjakan alternatif desain dan berdialog dengan Bahasa Inggris. Sekarang menurutku terlalu cepat, entahlah, mungkin karena aku merasa segalanya berubah dari semula, dari awal aku tahu ada kamu.

Awalnya mengenalmu itu menyenangkan, setiap hari aku mendorong pintu sambil mengucapkan selamat pagi dan siang, kau selalu duduk dengan tenang. Aku sering berpikiran ingin menjadi anak rajin yang bisa saja menjadi orang yang pantas kau kagumi. Awalnya, kukira kau lebih cocok dengan sahabatmu yang sering terlihat lebih seperti orang homo pacaran daripada sahabat biasa. Mulanya juga, aku berpikir ritual main basket bersama itu akan tetap ada.

Semuanya berubah, ya?

Ritual main basket itu berhenti menjelang ujian akhir semester satu. Sahabatmu tampak dengan dengan teman mainnya dan kau sibuk dengan gengmu seakan sahabatmu keluar dari geng itu. Dan waktu bergulir terlalu cepat sampai aku tak bisa merasakan apa-apa ketika nilai-nilaiku tidak bisa menjadi yang terbaik.

Padahal, setiap aku datang lebih, kau selalu duduk tenang. Kadang juga kau tidak ada karena alasan yang tidak kuketahui. Hal itu terus-terusan terulang sehingga akhirnya aku jenuh dan berniat ingin mendorong semua rasa untukmu supaya bisa kau telan bulat-bulat.

Tapi tidak terjadi.

Aku pengecut ya, Paus Biru.

Aku diam-diam menyebutmu Paus Biru karena aku suka hewan raksasa itu.

Dan—yah, banyak orang memanggilmu Kutu Bangsat atau Jamban atau Anjing dengan canda. Tetapi aku ingin memanggilmu Paus Biru hanya karena aku suka.

Ya, karena aku suka kamu.

.

.

.

.

Ada banyak nama untukmu—tapi rasanya kau tak perlu tahu.