Monday, December 17, 2012

Untuk Kamu, Bintang yang Tak Pernah Jatuh

Err... hei, aku hanya ingin minta pendapatmu...
Bagaimana diriku selama ini?





Ah, mungkin jika aku bertanya hal itu kepadamu, kamu pasti bilang kalau aku adalah gadis berdarah seperempat Jerman yang hiperaktif dan cerewetnya bukan main. Lalu kamu pasti bilang bahwa aku lebih cocok masuk klub pemandu sorak daripada masuk klub basket. Aku tidak akan bilang salah, karena semua yang kamu katakan tentang diriku memang benar. Mungkin jika aku ingin jawaban yang lebih pendek, kau pasti akan berkata bahwa kita hanyalah teman satu kelas, lebih spesifiknya: ketua dan wakil ketua klub basket.

Tapi, asal kau tahu, bahwa selama ini aku selalu menganggapmu lebih sekedar ketua dan wakil ketua klub basket. Aku terkadang mengagumimu ketika kamu turun ke lapangan basket, mencoba memasukkan bola oranye itu ke dalam ring, sementara aku di pinggir dan menyemangatimu sekuat yang aku bisa. Terkadang, aku butuh keberanian lebih untuk menyapa 'selamat pagi' kepadamu setenang mungkin. Aku selalu menantikan di mana kita bisa saling bertukar kontak mata ketika berada di kelas. Bahkan kadang-kadang aku sering wajahmu dari samping ketika sedang berada di dalam kelas. Tahu kenapa?

Karena aku suka kamu.

Iya, aku suka kamu. Dan aku sendiri tidak tahu mengapa.

Alasannya sendiri tak bisa kurangkai sampai detik ini, absurd ya?

Sejak saat itu aku nyaris tak pernah menghapus bayang-bayang senyummu ketika menang kompetisi basket itu di benakku. Jarang-jarang memang, melihat selama ini wajahmu datar dan tak pernah tersenyum, bahkan kepadaku. Aku selalu berusaha sekuat tenaga untuk membuatmu tersenyum, entah caranya apa saja. Namun yang kudapat hanya reaksi dingin darimu, sekalipun aku berusaha mencairkan sisi dinginmu, hasilnya selalu keadaan yang tidak baik.

Di saat aku menyerah dengan semuanya, tiba-tiba kamu tertawa. Tetapi bukan karena aku, tetapi karena pacar barumu yang baik hati itu. Ya, mulanya aku terkejut mendengar kamu baru mendapat pacar yang juga teman sekelasku juga. Bagaimana tidak heran, orang kaku dan dingin sepertimu bisa mendapatkan seorang pacar yang cukup bisa mengimbangimu: ceria, baik, polos, dan memiliki ketertarikan lebih terhadap atletik. Selama yang kulihat, tampaknya kalian akan tetap baik-baik saja, karena kamu sudah memilih dia.

Kenapa kau tidak memilihku?

Oh, tentu saja, aku cerewet dan hiperaktif, tak mungkin mengimbangimu. Tanpa diberitahupun aku sudah tahu.

Namun, aku tetap saja merasa miris saat itu, berpura-pura tidak tahu alasannya. Kenapa bukan aku? Padahal aku selalu berusaha membuatmu tersenyum, membuat hatimu sedikit lebih baik ketika berada dalam lingkup klub basket, dan selalu mengingatkan untuk tetap tegar melawan takdir, karena yang kudengar hubungan antar-keluargamu tidak begitu baik.

Kenapa bukan aku?

Hingga suatu saat Oma berkata kepadaku, katanya: Setiap hati punya tempat untuk berlabuh. Sekalipun kamu mengibarkan bendera agar hati itu berlabuh di tempatmu, berlabuh atau tidak, itu adalah keputusannya. Yang bisa dilakukan adalah menanti satu hati yang sudi berlabuh di tempatmu. Biarkan semua cerita mengalir, karena suatu saat akan ada yang berlabuh di hatimu.

Ya, kini aku tahu. Kau telah memilih dia, bukan memilihku. Itu adalah keputusanmu. Aku menerimanya dengan lapang dada, meski sesekali aku seperti menghirup rasa sesak ketika melihatmu berdua berjalan beriringan dengan tangan bertautan. Setidaknya, aku bisa melihat senyummu yang sedang mengembang.

Sekarangpun aku tersenyum.

Karena melihatmu tersenyum sudah lebih dari cukup untukku.

Karena itu, tetap bahagia dan semangat ya! :)


Salam,
A. Kreszentia Friedrich

1 comment: