![]() |
| quote (c) These Old Wings - Anna Nalick |
***
Untuk kesekian kalinya, dara itu menarik pandangannya dari buku dan menatap sisi kanan dari pemuda itu. Ya, seorang pemuda berpostur tinggi dengan rambut hitam pendek, pakaiannya serba hitam, tas hitamnya menggantung di bahu kiri, sementara kacamata hitamnya ia pegang dengan tangan kanan. Tangan mungil dara itu sebisa mungkin mencengkram erat buku novel yang ia pegang, takut buku itu akan jatuh seperti dinding mentalnya. Kendati gemetaran dan tak percaya, gadis itu berbisik dalam hatinya, "Akhirnya."
Akhirnya ia bisa melihat si pemuda dari jarak kurang dari sepuluh meter. Meski hanya sisi kanan yang ia dapat, ia bahagia.
Kesadaran akan waktu yang sempit membuat sang gadis berhenti memperhatikan pemuda itu dan beralih ke kasir toko untuk menyerahkan jam tangan pilihannya. Sesekali mencuri pandang, pemuda itu masih memperhatikan puluhan jam tangan yang dipajang di dalam kotak kaca, mencari yang terlihat cocok, dalam persepsi sang dara. Dalam hatinya, sekali lagi, ia berujar, "Apapun yang kamu pakai pasti cocok untukmu, kecuali yang talinya kecil dan warnanya emas kekuningan."
Setelah menyalami kasir toko, gadis itu beranjak keluar dari toko. Pada saat yang bersamaan pun pemuda yang diperhatikannya juga keluar, jadi tidak aneh mereka bertabrakan dan jatuh hingga buku-buku yang dibawa gadis itu berceceran.
"Maaf ya, maaf ..."
Akhirnya gadis itu bisa mendengar suara bass yang keluar dari mulut pemuda itu dari dekat. Suara bass adalah suara terendah bagi vokal laki-laki, untuk yang satu ini, suara itu sangat rendah sampai menyentuh dasar hati pemujanya. Gadis itulah salah satunya.
"Nggak, nggak apa-apa ..." balas sang gadis, tangannya kikuk mengumpulkan buku yang jatuh. Pemuda itu ikut menolong beban sang gadis dengan ikut memungut sisa kertas dan satu buah buku bersampul sebuah gambar pinggiran laut.
"The Old Man and The Sea ... Ernest Hemingway." pemuda jangkung itu mengeja judul buku itu. Seketika jantung pemilik buku itu terhenti untuk sekian detik. "Aku pernah baca, alurnya lambat luar biasa, tapi keren."
Gadis itu tertawa kecil mendengarnya, "Aku suka buku yang alurnya lambat, jadi aku lebih bisa memahami isi ceritanya."
"Oh, begitu ya ... kalau aku sih karena ada banyak kata-kata yang bagus." pemuda itu memiringkan kepalanya, mengorek sebagian ingatan kata demi kata yang bisa ia ingat. "Ah ini: Luck is a thing that comes in many forms and who can recognize her?"
"Aku juga suka kutipan itu." tambah sang gadis lagi.
Sebab kutipan itu adalah sumber segala kebetulan yang selalu ia percayai tentang orang yang bicara dengannya ini. Gadis itu sangat percaya dengan keajaiban, semesta yang selalu mengatur segala kebetulan di dunia, benang merah yang terhubung antara satu manusia dengan manusia lain, serta takdir yang menuntun hidup setiap orang.
Awal mula, gadis itu percaya dengan doa, bahwa suatu saat ia pasti akan bertemu kembali dengan pemuda itu. Dia berdoa bahwa suatu saat ia bisa berdekatan dengan pemuda itu. Satu hal yang salah dilakukan, gadis itu terlalu terburu-buru berharap, tidak sabaran ingin menjadi kenyataan. Pada akhirnya kepercayaan itu memudar seiring berjalannya waktu dan pudarnya pula masa remajanya.
Jika sudah seperti ini, akankah ia percaya lagi?
"Well, senang bicara tentang Ernest Hemingway denganmu." kata pemuda itu. "Aku sedikit menduga ketika melihatmu, ternyata benar kamu itu kutu buku yang filosofis."
Gadis itu tersipu, semburat merah jambu menambah warna pada pipinya. "Tidak juga."
"Terima kasih banyak ..."
Seharusnya aku yang berterima kasih, batin sang dara.
Pemuda itu berbalik memunggungi sang dara dan berjalan menjauhi, sementara dara itu sendiri berdiri membeku dengan lensa mata terfokus pada punggungnya. Mendadak ia ingin menangis dan berkata banyak kepada pemuda itu untuk yang terakhir, karena ia yakin hal seperti ini tidak akan terulang dua kali.
"Hei!"
Seruan itu membuat pemuda itu berbalik, beberapa pasang mata yang ikut mendengar membuat nyali gadis itu ciut.
"Ya?"
Sekarang, sekarang, ayo, tinggal sekarang kesempatanmu, girl.
"Rubah biru ... rubah birunya memperingatimu untuk tetap jaga diri." yang empunya mulut ini pun turut tak percaya dengan kata-katanya sendiri. "Hati-hati di jalan, have a save flight."
Iris coklat tua gadis itu menerawang ke atas, di lantai dua, deretan gadis-gadis seumuran dirinya menangkap momen itu dengan kamera. Nyalinya semakin ciut, hatinya semakin nelangsa, dalam kepalanya terbayang dirinya akan dikerubungi para fans fanatiknya lalu digencet habis-habisan.
Semesta kembali memberinya hadiah, pemuda itu berjalan mendekati dirinya. "Terima kasih."
***
"Everything about him was old except his eyes, and they were the same color as the sea and were cheerful and undefeated."
―The Old Man and The Sea, Ernest Hemingway***Seketika, gadis itu berhambur keluar dari bandara, berhambur air mata.
Sementara pemuda itu berbisik pelan di dalam hatinya."Terima kasih, gadis rubah biru..."
Bogor, 26th March 2013-Ren

No comments:
Post a Comment