***
Kau tahu? Semua pria di dunia ini brengsek.
Pria brengsek pertama yang kukenal adalah ayahku sendiri, beliau seenak jidat menceraikan ibuku dan membuat ibuku frustasi hingga bunuh diri hanya karena ibuku bukan seorang penyihir. Pria brengsek kedua adalah kakek dari pihak ayahku, karena beliau lah yang membuat aturan tolol bahwa haram hukumnya penyihir menikahi manusia biasa. Cukup dua bukti saja, aku sudah tahu, bahwa hidup ini memuakkan dan selalu diatur dalam kebiadaban cara berpikir mereka bahwa aku sakit jiwa.
Tidak, aku tidak sakit jiwa, mereka yang sakit jiwa. Mereka tidak tahu bagaimana rasanya seorang anak yang melihat ibunya tewas menggantung di ruang keluarga tanpa meninggalkan surat terakhir atau firasat dalam bentuk apapun. Mereka tidak tahu apa-apa tentangku, katanya aku akan lebih baik jika diasuh ayah yang sudah menikahi jalang menjijikkan itu. Kenyataannya? Jangan harap aku bisa berbuat baik selamanya.
Aku semakin benci dengan kaum penyihir yang selalu mengagungkan darahnya, bagiku, mereka adalah makhluk-makhluk imbisil yang memasang kedok bangga terlalu tebal sehingga aku ingin menyingkap topeng mereka dan menghancurkan wajahnya. Bahkan ketika aku mendapat surat dari sebuah akademi sihir, nyaris kurobek amplop itu di depan ayahku, aku tak ingin mengenal lebih banyak orang bertopeng imbisil itu.
Lalu kamu ada.
Ya, kemunculanmu di kuil tempo waktu itu membuatku lebih tenang. Sedikit demi sedikit, aku menerima kenyataan bahwa aku adalah seorang penyihir, kendati ibuku adalah manusia biasa, darah sihir ayah mengalir ke dalam tubuhku. Lagipula, aku akan tinggal di asrama, aku tidak akan bertemu mereka selama setahun, bukankah itu bagus? Lebih baik ayahku mati tanpaku di sisinya daripada aku melihat kematian dua kali.
Ternyata, takdir kita terjalin.
Aku tak menyangka ternyata kamu masuk ke dalam akademi sihir yang sama denganku. Padahal, aku tak melihat tampang seorang penyihir dari aura samarmu. Pikiranku semakin meluas dengan adanya kamu, setidaknya, dunia yang mulanya hitam semua kini kau sinari, seperti cahaya kunang-kunang yang menyusup masuk ventilasi rumah pada malam hari.
Ngomong-ngomong soal kunang-kunang, aku pernah baca buku tentang kunang-kunang. Katanya, kunang-kunang adalah simbol dari harapan. Seketika aku teringat denganmu.
Aku pun mendeklarasikan dirimu sebagai kunang-kunang; masuk seenaknya, membawa cahaya kecil, terang sendirian di antara kegelapan. Hal yang begitu sederhana tentang bagaimana dirimu menjawab pertanyaanku dengan nada kaku dan matamu yang selalu tertuju pada tanganku dan tulisan tanganku ketika aku kerja kelompok denganmu, lalu kamu yang selalu tersenyum baik kepadamu meski kelihatannya kamu tidak nyaman berada di dekat mereka. Kadang-kadang aku tergelitik melihatmu sedikit ketakutan ketika bertukar sapa denganku. Hei, kuberi tahu, aku bukan Basilisk atau Medusa yang akan membunuhmu sekali kita bertatapan mata.
Kamu memang kunang-kunang, datang tiba-tiba, membawa cahaya kecil, terbang ke sana kemari.
Tapi aku tahu persis, mereka juga pergi tiba-tiba.
Kamu menghilang dari jarak pandangku, hilang dari akademi, hilang dari desa, hilang dari kuil. Kamu hilang tanpa memberikan jejak, petunjuk, bahkan salam perpisahan kepadaku.
Kenapa kau pergi? Hanya itu pertanyaanku. Tidakkah itu terlalu sulit untuk dijawab?
Aku memikirkanmu sampai tidak naik kelas lho.
Mungkin semua pria yang kukenal itu brengsek.
Tapi, ah, tidak, kamu tidak brengsek. Kamu saja yang datangnya seperti kunang-kunang, datang tiba-tiba, lalu pergi tanpa pamit. Cahaya kecilmu sampai sekarang kusimpan sebagai memori bahwa ada orang baik yang mau masuk ke dalam pertanahanku, lalu pergi tanpa merampas apa-apa dariku. Aku bersyukur tidak ada yang hilang lagi di dalam dada ini.
Ah, bukan, kamu menambahkan sesuatu dalam hatiku.
Harapan dan cinta.
Bogor, 18th April 2013
-Ren

No comments:
Post a Comment