Kadang ia bosan memperhatikannya sebagai orang asing.
Ia bosan melihat bagaimana pujaan hatinya itu tertawa bersama teman-temannya sementara ia berkawan dengan buku-buku yang selalu dibawanya ke manapun ia pergi. Ia bosan melihat bagaimana sang pujaan menjadi kebanggaan semua orang, sementara dirinya hanyalah anak perempuan yang biasa-biasa saja. Ia juga bosan mendengar berbagai rumor dan berita terbaru tentang orang itu—betapa populernya dia, betapa menyenangkan berteman dengannya, ditambah sederet prestasi dan pujian yang selalu terselip.
Apakah ia cemburu? Tidak, ia tidak cemburu. Justru ia patah.
Jika saja sore itu ia tidak bertemu dengan laki-laki itu di depan gerbang sekolah dengan cahaya jingga menembus tubuhnya hingga ke dalam denyut nadinya, mungkin ia tidak akan mengutarakan perasaannya kepadanya secara tiba-tiba. Jika saja ia tidak mengatakannya terlalu terburu-buru, bahwa ia menyukainya tanpa alasan, mungkin anak laki-laki itu tidak akan mengerutkan dahinya dan meninggalkannya dengan jawaban yang membuatnya patah hati berkepanjangan.
Kabar terbaru dari orang yang disukainya itu—dari teman-teman yang hobi bergosip, anak laki-laki itu sudah punya pacar yang sama pintar dan populer.
Ia mencoba untuk tersenyum ketika melihat punggung anak laki-laki itu, dengan seseorang yang bukan dirinya di samping sang pujaan hati, setiap harinya.
Ia tak mungkin menjadi populer atau pintar, karena ia sudah terlanjur nyaman menjadi dirinya sendiri. Dan jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin sekali menjadi dirinya sendiri di hadapan anak laki-laki itu.
Kenapa?
Karena yang diingat dari kejadian sore itu, dia hanya meminta untuk menjadi dirinya sendiri.
Dan menurutnya, itu sudah lebih dari cukup.
No comments:
Post a Comment